Senin, 02 Februari 2015

Smartphone 4G ZAP telah Riilis



Jakarta - Penantian panjang untuk merasakan kecepatan akses data di smartphone menggunakan jaringan 4G LTE akan segera berakhir. Besok, smartphone 4G terbaru – Zap resmi hadir di Indonesia dan bisa diperoleh dengan harga terjangkau.

Zap merupakan smartphone Android yang mendukung koneksi 4G LTE dengan spesifikasi mumpuni. Menggunakan prosesor Quad Core 1.2 GHz terbaru dari Qualcomm Snapdragon berarsitektur 64 bit dan OS Android 4.4.4 KitKat yang bisa di-upgrade ke Lollipop.

Untuk urusan memori, Zap memiliki RAM sebesar 1 GB dan ROM sebesar 8GB yang bisa ditambah hingga 32 GB menggunakan slot microSD eksternal. Sementara untuk multimedia, Zap memiliki kamera belakang beresolusi 5 MP dengan flash light.

Kecepatan akses data 4G LTE tentunya harus dimanfaatkan. Upload video hasil rekaman kamera belakang Zap ke YouTube tanpa harus menunggu lama. Atau gunakan kamera depan beresolusi 0.3 MP dan nikmati video call lebih lancar di jaringan 4G LTE.

Rasakan juga pengalaman streaming video HD bebas buffering di Zap yang memiliki luas layar 4,5 inci. Semua ini bisa Anda rasakan tanpa harus mengeluarkan biaya yang ‘mencekik’. Bisa dibilang bahwa Zap merupakan smartphone 4G termurah di dunia.

Rabu, 17 Desember 2014

Review Film Ik Houd Van Jou "KAMPONG KREATIF"


 


Rabu, 17 Desember 2014 terdapat suatu acara yang unik di kampus PENS. Acara tersebut merupakan pameran bulanan yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Multimedia Kreatif. Acara pameran tersebut memiliki acara utama yang diadakan di Theater PENS, acara tersebut dimulai dari jam 7 hingga 9 malam. Didalam acara tersebut berisikan screening film yang bertujuan agar pembuat film memahami akan kekurangan dari film-film yang sudah dibuat.

Dalam screening film tersebut terdapat film yang memiliki genre yang berbeda dibanding ke limafilm yang sudah ditayangkan. Film tersebut berjudulkan "Ik Houd Van Jou" yang berarti "aku mencintaimu", film tersebut ber-genre thriller, romance, drama. Film yang di sutradarai oleh Brian Widianto alumni MMK 2011 tersebut mendapatkan respon yang baik dari pengunjung.

Kamis, 23 Oktober 2014

5W+1H dalam Caption


 Jembatan tua yang masih kokoh berdiri di tengah-tengah jalanan kota Surabaya. Jembatan yang berdiri di dekat Bank BI Surabaya ini terlihat sangat indah dilihat dari bawah jembatan dikarenakan Jembatan ini mengalami cat ulang sehingga terlihat lebih cerah. Jembatan ini terlihat indah dilihat dari bawah dikarenakan jembatan ini menjulan dari ujung ke ujung sebrang jalanan kota Surabaya. Itu sebabnya banyak sekali anak muda yang mengabadikan jembatan ini.




Akhir pekan, itulah waktu yang dimanfaatkan anak-anak Surabaya untuk bersenang-senang. Anak-anak kecil ini memanfaatkan liburan mereka di tempat yang begitu menyenangkan bagi mereka, yaitu air mancur di area Taman Bungkul Surabaya. Anak-anak ini terus bermain air mancur karena airnya yang muncul tiba-tiba dan mengejutkan mereka. Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya beranjak dari tempat tersebut.





 Dies Natalis merupakan serangkaian acara yang di selenggarakan oleh PENS pada tahun lalu, salah satu acara tersebut yaitu perlombaan bola voly. Para dosen dan stafnya meluangkan waktu mereka setelah jam kuliah berakhir untuk pemanasan menjelang perlombaan dimulai. Perlombaan dimulai sore hari dikarenakan jam selesai kuliah pada sore hari. Itu sebabnya para dosen dan staf PENS terlihat begitu semangat melakukan pemanasan.





 Nasi tumpeng merupakan sajian orang Jawa yang begitu khas. Namun kali ini nasi tumpeng ini disajikan untuk perayaan malam tirakatan menjelang 17 Agustus. Nasi tumpeng yang kabarnya berharga sekitar Rp.500.000,00- ini dimasak sendiri oleh ibu-ibu Siwalankerto yang merayakan malam tirakatan. Lebih murah dan bisa menciptakan kekeluargaan itulah alasan ibu-ibu tersebut membuat nasi tumpeng tersebut sendiri.





Merdeka, itulah kata yang sering diucapkan saat menjelang 17 Agustus. Namun berbeda dengan warga RT 07 RW 01 Siwalankerto. Mereka membuat acara malam tirakatan dengan cara menghibur warga-warga setempat. Dengan panggung yang sederhana masyarakat Siwalankerto begitu bersemangat dan percaya diri menghibur warga-warga lainnya. Waktu yang semakin malam tidak menjadi masalah bagi mereka, karena mereka ingin mengekspresikan detik-detik kemerdekaan yang mereka nanti.

Kamis, 16 Oktober 2014

Suka Duka Menjalani Profesi Sebagai Dosen



Suka duka menjadi dosen, itulah apa yang disampaikan dosen yang biasanya dipanggil Ibu Widi ini. Ibu muda yang sudah 3 tahun menjalani profesinya sebagai dosen di prodi Multimedia Broadcasting ini mengajarkan mata kuliah drawing dan metodologi desain. Walaupun dosen yang juga lulusan DKV-ITS ini tidak bercita-cita menjadi dosen, namun tuntutan dari ibunya tetap beliau jalani tanpa beban. Dan itulah yang membuat beliau bertahan hingga saat ini.

Ketika menyampaikan suka duka menjadi dosen, beliau menjawab “pengalaman yang menyenangkan sih banyak, terutama teman-teman dosen yang banyak guyon jadi tidak seperti kerja tapi seperti main”. Namun beliau juga menyampaikan duka menjadi dosen “awal saya kerja disini memang belum tau tentang habitnya seperti apa. Beberapa dosen lain dan mahasiswanya bilang kalau saya itu sombong dan cuek” kata beliau. Selain itu dalam wawancara kemarin (9/10) Ibu Widi juga mengungkapkan mahasiswa masih ramai dikelas ketika beliau mengajar, mungkin karena Ibu Widi yang masih muda dan mahasiswa menganggap beliau sebagai teman diskusi.

Kamis, 02 Oktober 2014

ANJAS Anak Jalanan

Pada dasarnya anak jalanan adalah anak-anak kurang beruntung yang terlahir di tengah keluarga ekonomi bawah. Padahal bila kita berbicara mengenai anak-anak, seharusnya anak-anak adalah harapan masa depan bangsa yang mana akan menjadi penerus generasi berikutnya. Dan bila masih banyak anak jalanan yang berkeliaran, maka itu akan menjadi potret kegagalan suatu Negara. Seperti yang kita ketahui di Indonesia, masih banyak sekali anak-anak jalanan bahkan pengemis yang berkeliaran di jalanan.

Sama seperti Anjas, ia sudah menjadi pengamen selama tiga tahun. Hidup di dalam kota Jakarta yang begitu keras. Demi membantu kedua orang tuanya mencari uang. Ayahnya hanya seorang pemulung, dan ibunya menjadi buruh cuci jika ada panggilan. Dan Anjas pun sama sekali tidak mendapat paksaan dari pihak mana pun, karena ingin menghidupi kehidupan sehari-hari.

Menjadi anak jalanan sangatlah tak mudah, terkadang bias menyenangkan dan terkadang menyakitkan. Bakan Anjas pernah hanya mendapatkan hasil dari ngamennya sebesar Rp. 7000. Dan pernah juga Anjas mendapat hasil sebesar Rp.100.000 yang mana hasil tersebut memang sudah diniati Anjas untuk dibelikan baju untuk ibunya yang sedang berulang tahun. Namun naas, uang tersebut lenyap setelah preman jalanan merampas paksa uang tersebut dari tangannya.

Harapan setiap manusia adalah mempunyai derajat sama dengan manusia lainnya. Perjuangan dan harapan selalu berjalan berdampingan menuju sebuah kesuksesan. Banyak orang tidak beruntung di luar sana, tetapi mereka punya semangat yang luar biasa untuk melanjutkan hidup

Hari Raya Kupat



Kupatan merupakan kegiatan yang dilakukan pada Bulan Syawal 7 hari setelah hari raya. Bahkan kupatan merupakan kegiatan yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia yang tak bisa ditinggalkan. Dikarenakan umat islam mempercayai bahwa dengan kupatan mereka dapat membentuk keimanan yang kuat dan kokoh. Dan juga terdapat mitos-mitos yang terjadi seperti akan datangnya banyak rejeki bila ada kupatan, hal tersebut disebabkan karena adanya keikhlasan, ketulusan, serta kebersamaan yang tinggi. Dan biasanya kebanyakan umat islam menyebutnya dengan Hari raya kupat.

Di Indonesia sendiri, tradisi hari raya kupat/kupatan sudah tersebar di banyak pulau di Indonesia, diantaranya Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian Barat, dan berbagai Pulau di Indonesia lainnya. Dan di pulau Jawa lah yang paling banyak dilakukannya tradisi Kupatan, dan kebanyakan orang di Pulau Jawa meyakini bahwa kupatan dapat memberikan banyak rejeki sehingga dipermudah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Dan tentunya saya sendiri yang memang tinggal di Pulau Jawa juga melaksanakan tradisi Kupatan atau Hari Raya Kupat, karena memang tradisi tersebut dilakukan turun temurun dari dulu. Namun dari tradisi tersebut, saya hanya mengambil nilai positif saja dari tradisi tersebut yaitu terciptanya kekeluargaan, kebersamaan, dan saling berbagi. Jadi, tidak ada ruginya juga bila kita melakukan hal yang memang memiliki manfaat yang lebih dan tidak menyalahi aturan yang ada.